Fajar Kurniawan, tiga masalah utama Koperasi “Kopma UGM”

Koperasi “Kopma UGM” adalah salah satu UKM favorit dan banyak diminati oleh mahasiswa UGM maupun mahasiswa dari luar UGM. Banyak daya tarik yang dimiliki koperasi “Kopma UGM” sehingga banyak mahsiswa yang ingin bergabung menjadi anggota koperasi “Kopma UGM”. Salah satu daya tarik yang menjadi alasan untuk bergabung menjadi anggota koperasi “Kopma UGM” adalah bisa menjadi parttimer di divisi-divisi usahakoperasi “Kopma UGM”. Begitu juga dengan Fajar Kurniawan yang sekarang menjabat menjadi Direktur Humas koperasi “Kopma UGM”. Awalnya, dia bergabung menjadi anggota koperasi “Kopma UGM” karena ingin menjadi parttimer  untuk menambah uang sakunya. Dia adalah anggota koperasi koperasi “Kopma UGM” yang ikut pendidikan dasar angkatan 86.

Untuk bisa mencapai titik saat ini perjalanan yang dilalui tidaklah semulus perkiraan. Beliau pernah mengalami kegagalan, misalnya gagal menjadi ketua Diksar 86 dan gagal  bergabung menjadi panitia Diksar 87. Namun kegagalannya tidak membuatnya menyerah, justru membuat beliau semakin penasaran dan termotivasi. Pertama beliau mendaftar asbid humas ( dulu bernama P dan K ), kemudian menjadi staff humas, dan akhirnya menjadi direktur utama humas.

Banyak hal yang beliau dapatkan ketika bergabung menjadi anggota koperasi “Kopma UGM” diantaranya adalah mendapatkan insentif, jaringan yang luas, ilmu yang aplikatif, belajar tentang public speaking, menulis, negosiasi, dan perspektif lain politik. Selain bergabung dalam koperasi “Kopma UGM”, beliau juga mengikuti sejumlah organisasi lain, diantaranya BEM KM, UPI, Pramuka, dan JMF.

Ketika ditanya tentang makna koperasi, dia menjawab, “Koperasi adalah solusi  terhadap permasalahan individu ataupun kelompok dan gerakan untuk memecahkan masalah menggunakan instrumen bisnis, Namun, saat ini, semakin tua koperasi semakin melenceng dari niali-nilai koperasi dan tujuan koperasipun sudah berubah”.

Koperasi “Kopma UGM” sebagai sebuah organisasi yang berbadan hukum dan UKM mempunyai beberapa masalah. Menurut dia, masalah dalam koperasi “Kopma UGM” dibagi menjadi tiga yaitu keaggotaan, bisnis, dan gerakan. Masalah keanggotaan koperasi “Kopma UGM” antara lain adalah partisipasi aktif anggota koperasi “Kopma UGM” masih kurang dari 10% dan mengalami penurunan dibanding tahun 2010, anggota yang paham tentang koperasi jumlahnya sedikit, hal ini terlihat pada saat forum anggota kurang kritis. Selain itu, pandangan anggota tentang  koperasi “Kopma UGM” yang kurang transparan. Pada bidang bisnis, masalah yang ada adalah manajemen bisnis yang kurang sehingga usaha-usaha yang lama maupun baru terseok-seok, investasi yang dilakukan belum cukup meningkatkan omset dan komunikasi antara karyawan dan pengurus  koperasi “Kopma UGM” belum terjalin dengan baik. Sedangkan masalah gerakan adalah kurangnya kader-kader koperasi dan pemahaman orang tentang koperasi.

Fajar berharap bahwa agar kedepannya koperasi ini dapat berjalan pada jalan yang sesuai, tidak melenceng, dan meluruskan tujuan. Kalau diperhatikan, citra koperasi di negara ini masih belum bagus. Untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di Koperasi “Kopma UGM” terutama masalah keanggotaan dan gerakan maka dibetuklah GCK(Gerakan Cinta Koperasi) yang bersifat non otonom yang berada dibawah bidang humas, yang bertujuan untuk menciptakan anggota yang berfikir kritis serta mewujudkan anggota yang peduli terhadap masa depan koperasi dan juga sebagai kader di dalam berkoperasi. Selain itu, akan diadakan pendidikan koperasi yang mudah diterima oleh anggota.

 (Cintiya, MO)