Koperasi dan Konglomerat

Apabila Konglomerat memang berniat untuk membantu pengusaha kecil, masih banyak cara yang dapat dilakukan, tidak perlu melalui koperasi bisa dalam bentuk bantuan modal, pembukaan lapangan kerja, juga dalam bentuk pelatihan kewirausahaan.

Apa yang anda pikirkan setelah mendengar kalimat “Koperasi yang didirikan dan beranggotakan (dimiliki oleh) konglomerat”? Mungkin jika kita mengacu pada prinsip Koperasi “keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka” maka sah-sah saja jika konglomerat menjadi anggota koperasi. Tetapi yang harus diingat, bahwa koperasi juga harus membuka diri terhadap anggota masyarakat yang bukan konglomerat.

Pada umumnya, orang-orang berkoperasi itu dilatarbelakangi oleh keterbatasan akses ke sumber ekonomi dan/atau keuangan, yang sulit diatasi seorang diri, sehingga diperlukan suatu lembaga/organisasi yang dapat mempersatukan kekuatan-kekuatan yang kecil/lemah menjadi kekuatan yang mampu mengatasi berbagai kendala. Lalu jika demikian apa yang kira-kira menjadi motivasi para konglomerat mendirikan koperasi menimbang status mereka yang sudah memiliki segalanya? Jika motivasi pendirian koperasi konglomerat untuk membantu modal para pengusaha kecil, sungguh koperasi bukanlah pilihan yang tepat karena koperasi bukan lembaga charity atau filantropi melainkan lembaga ekonomi dimana anggotanya sebagai pemilik sekaligus pelanggan.

Upaya untuk membantu para pengusaha kecil/mikro sebetulnya tidak harus melalui pembentukan koperasi tersendiri. Bisa juga sang konglomerat langsung bergabung dengan koperasi yang sudah ada, yang sudah berjalan dengan baik. Di situ konglomerat bisa menempatkan modalnya dengan persyaratan yang saling menguntungkan, untuk memenuhi kebutuhan anggota.

(Dikutip dari Buku “Wajah Koperasi Indonesia”, Djabaruddin Djohan)